Breaking News

OJK dan BI Perkuat Inovasi Serta Stabilitas Ekosistem Keuangan Digital Indonesia

OJK Mengajar di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS)

Surabaya, 8 November 2025 — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem keuangan digital yang inovatif, inklusif, aman, dan berintegritas. Upaya ini dilakukan seiring dengan meningkatnya adopsi layanan keuangan digital oleh masyarakat Indonesia.

Pesan tersebut disampaikan oleh Anggota Dewan Komisioner OJK Ex-Officio Bank Indonesia, Juda Agung, dalam kegiatan OJK Mengajar bertema “Inovasi Digital di Sektor Keuangan Indonesia: Mendorong Inovasi dan Mitigasi Risiko” yang berlangsung di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya, Jumat (7/11).


Transformasi Digital Mendorong Inklusi Keuangan

Dalam paparannya, Juda Agung mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pertumbuhan digitalisasi tercepat di dunia. Hal tersebut didukung oleh karakter masyarakat yang digital-native serta tingginya kepemilikan perangkat seluler dan akses internet.

“Jumlah handphone di Indonesia mencapai 125 persen dari jumlah penduduk, dengan rata-rata screen time mencapai 7 jam per hari. Tidak heran transaksi digital tumbuh sangat cepat,” jelas Juda.

Perkembangan ini turut mendorong transformasi pada sektor jasa keuangan, mencakup layanan pembayaran digital, perbankan digital, pembiayaan berbasis teknologi, investasi digital, hingga kemunculan aset keuangan baru berbasis teknologi.

Inovasi layanan keuangan digital juga dinilai membuka kesempatan bagi masyarakat yang sebelumnya sulit mengakses layanan keuangan konvensional, seperti UMKM, masyarakat di wilayah terpencil, serta generasi muda.


Risiko Digital Meningkat, Penguatan Regulasi Diperketat

Meski pertumbuhan digitalisasi di sektor keuangan sangat pesat, Juda menegaskan perlunya kewaspadaan terhadap risiko kejahatan siber, seperti fraud, phishing, dan serangan siber yang semakin kompleks.

Untuk menghadapi tantangan tersebut, OJK dan BI memperkuat mitigasi risiko dan perlindungan konsumen melalui:

  • peningkatan standar keamanan sistem dan regulasi,
  • pengawasan terpadu,
  • pemanfaatan artificial intelligence (AI) dan machine learning untuk deteksi kejahatan keuangan digital.

Salah satu langkah nyata adalah melalui pembentukan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), pusat kolaborasi nasional antara regulator dan pelaku industri jasa keuangan untuk mempercepat penanganan penipuan digital dan pemblokiran dana secara terintegrasi.


Sinergi Otoritas Jaga Stabilitas Sistem Keuangan

Juda menegaskan bahwa stabilitas sistem keuangan digital tidak bisa dijaga oleh satu lembaga saja.

“OJK tentu saja tidak bisa menjaga sistem keuangan sendirian. Bersama Bank Indonesia, LPS, dan Kementerian Keuangan, kita tergabung dalam Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),” ujarnya.


Ajak Mahasiswa Jadi Agen Literasi Keuangan Digital

Kegiatan OJK Mengajar ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-14 OJK. Acara tersebut dihadiri oleh:

  • Rektor ITS Prof. Bambang Pramujati,
  • Kepala OJK Provinsi Jawa Timur Yunita Linda Sari,
  • Deputi Perwakilan BI Provinsi Jawa Timur Ridzki,
  • Dekan Fakultas Teknologi Industri dan Rekayasa Sistem Prof. Juwardi, serta
  • lebih dari 150 mahasiswa dan civitas academica ITS.

Melalui kegiatan ini, OJK mengajak generasi muda untuk menjadi agen literasi keuangan digital yang cerdas, etis, dan berdaya saing dalam menghadapi pesatnya inovasi teknologi di sektor keuangan.(Sabirin)

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close