Breaking News

Transparansi Dana Perpisahan dan Ujian Praktik Disorot, Guru dan Siswa Keluhkan Minimnya Keterbukaan di SMA Negeri 1 Sungai Pinyuh

Sungai Pinyuh, Cyberpers –
Polemik pengelolaan dana kegiatan perpisahan  Tahun 2025 dan sejumlah program sekolah di SMA Negeri 1 Sungai Pinyuh, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, kini menjadi sorotan. Tidak hanya siswa dan orang tua, beberapa guru juga mulai menyuarakan kegelisahan terkait minimnya transparansi penggunaan anggaran di lingkungan sekolah tersebut.kamis,(5/3)

Persoalan mencuat dari rencana pembuatan foto angkatan siswa kelas XII. Dua orang perwakilan siswa sebelumnya mengajukan rencana tersebut kepada pimpinan sekolah agar dapat menjadi kenangan ketika mereka lulus nanti. Namun, usulan tersebut dikabarkan tidak mendapatkan persetujuan.

Padahal, sejumlah siswa telah lebih dulu mengumpulkan dana sebesar Rp130.000 per siswa yang dititipkan kepada bendahara masing-masing kelas. Hingga saat ini, dana tersebut belum dikembalikan kepada siswa dan belum ada kejelasan apakah kegiatan foto angkatan akan tetap dilaksanakan atau tidak.

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya di kalangan siswa dan orang tua. Sebagian wali murid mengaku mengetahui persoalan tersebut dari anak mereka karena belum adanya penjelasan resmi dari pihak sekolah.

“Jika memang kegiatan itu tidak disetujui, seharusnya ada penjelasan kepada siswa dan uang yang sudah dikumpulkan dikembalikan,” ujar salah satu sumber yang enggan disebutkan namanya.

Biaya Ujian Praktik Dipertanyakan

Keluhan lain muncul terkait rencana pelaksanaan ujian praktik siswa kelas XII untuk mata pelajaran pilihan Kimia dan Biologi di PT Jarum, wilayah Kepayang. Dalam rencana tersebut, siswa diminta membayar Rp50.000 per orang untuk kebutuhan transportasi.

Sejumlah pihak mempertanyakan kebijakan tersebut karena sekolah diketahui menerima Dana PBP (Pembiayaan Beasiswa Pendidikan) yang dinilai seharusnya dapat mendukung kegiatan pembelajaran, termasuk pelaksanaan ujian praktik.

“Kenapa tidak dibiayai dari sekolah? Ini kan program sekolah yang seharusnya sudah masuk dalam perencanaan anggaran sebelum tahun ajaran dimulai. Kemana dana PBP itu digunakan?” ungkap sumber tersebut.

Selain soal biaya, rencana ujian praktik ini juga disebut tidak disosialisasikan kepada orang tua siswa, berbeda dengan proses pemilihan mata pelajaran ketika siswa masih duduk di kelas X yang saat itu melibatkan wali murid melalui pertemuan resmi di sekolah.

Dibandingkan Sekolah Lain

Perbandingan pun mencuat. Beberapa sekolah di wilayah Kalimantan Barat disebut mampu membiayai kegiatan edukatif tanpa membebankan biaya tambahan kepada siswa.

Contohnya, kegiatan kunjungan edukatif ke Lapas Singkawang maupun program bimbingan karir di Universitas Tanjungpura Pontianak, yang bahkan melibatkan hingga sembilan bus untuk membawa siswa dari sekolah ke lokasi kegiatan.

Hal tersebut memunculkan pertanyaan mengenai skema pengelolaan dan penggunaan anggaran di SMA Negeri 1 Sungai Pinyuh.

Jika dihitung dari jumlah siswa yang mencapai sekitar 926 orang, sejumlah pihak menilai sekolah seharusnya memiliki sumber pendanaan yang cukup besar dari berbagai program pemerintah.

Suasana Internal dan Fasilitas

Selain persoalan anggaran kegiatan, kondisi internal sekolah juga disebut menjadi pembicaraan di kalangan tenaga pendidik.

Sejak pergantian kepala sekolah, beberapa guru menilai komunikasi internal kurang terbuka. Aspirasi yang disampaikan oleh tenaga pendidik disebut kerap tidak mendapatkan respons maksimal.

Di sisi lain, masalah fasilitas juga turut disorot. Akses WiFi sekolah dilaporkan sering tidak dapat digunakan secara optimal, bahkan saat kegiatan pembelajaran maupun pertemuan daring seperti Zoom. Akibatnya, guru dan siswa kerap menggunakan paket data pribadi untuk menunjang proses belajar mengajar.

Pembagian MBG Dipersoalkan

Keluhan juga muncul terkait pembagian MBG (Makanan Bergizi Gratis) untuk siswa. Sejumlah siswa mengaku melihat adanya oknum yang mengambil jatah makanan dalam jumlah banyak.

Beberapa siswa bahkan mempertanyakan apakah makanan yang diambil tersebut dibagikan kepada guru lain atau tidak.

“Kalau memang ada siswa yang tidak hadir, seharusnya makanan itu dibagikan kepada siswa yang hadir agar tidak mubazir, bukan justru dibawa pulang dalam jumlah banyak,” ujar salah satu siswa.

Harapan Transparansi

Beragam persoalan tersebut bermuara pada satu tuntutan yang sama, yakni transparansi pengelolaan anggaran sekolah.

Siswa, orang tua, hingga sebagian tenaga pendidik berharap pihak sekolah dapat membuka secara jelas laporan penggunaan dana pendidikan, baik yang bersumber dari Dana BOS, Dana PBP, maupun sumber lainnya.

Keterbukaan dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik sekaligus mencegah munculnya kesalahpahaman di lingkungan pendidikan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak SMA Negeri 1 Sungai Pinyuh belum memberikan keterangan resmi terkait berbagai persoalan yang disampaikan oleh siswa, orang tua, maupun sejumlah tenaga pendidik tersebut.(Tim)

Iklan Disini

Type and hit Enter to search

Close