Bengkayang_Cyberpers.com
Menjelang Berakhirnya Tahun 2025, Panglima Besar Tambak Bayah sekaligus Panglima Tertinggi Mangkok Merah Borneo Bersatu menyampaikan renungan akhir tahun yang sarat pesan reflektif, spiritual, dan kemanusiaan. Renungan tersebut menjadi ajakan terbuka bagi seluruh masyarakat untuk berdamai dengan diri sendiri, memperkuat persaudaraan, serta menatap tahun 2026 dengan semangat damai dan sejahtera.
Dalam pesannya, Panglima Besar Tambak Bayah menegaskan bahwa kehidupan tidak pernah lepas dari masalah dan tantangan. Menurutnya, kegelapan justru menjadi bagian penting yang membuat terang memiliki makna.
“Tidak ada kehidupan tanpa masalah. Kegelapan selalu hadir, namun dari sanalah kita belajar menghargai cahaya. Tuhan sedang bekerja dalam diri kita, bahkan saat kita terlelap,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya menguasai diri sendiri dibandingkan menguasai orang lain. Menurutnya, kekuatan sejati bukan terletak pada dominasi, melainkan pada kemampuan seseorang mengendalikan emosi, ego, dan pikirannya dalam menghadapi persoalan hidup.
Renungan tersebut turut menyoroti perjalanan panjang kehidupan manusia yang penuh liku—melewati jurang, bukit, jarak jauh dan dekat—namun tetap harus dijalani dengan kesadaran untuk hadir bagi diri sendiri, keluarga, sahabat, dan sesama.
“Sesekali kita perlu hadir untuk diri sendiri. Jangan menghabiskan malam tanpa tidur hanya untuk menerangi semua masalah. Percayalah, semua sedang diselesaikan oleh Tuhan,” katanya.
Dalam refleksi akhir tahun itu, Panglima Besar Tambak Bayah juga mengajak masyarakat untuk tidak membenci mereka yang membenci, melainkan menghargainya sebagai bagian dari proses pendewasaan diri.
“Hargailah mereka yang membencimu, karena mereka telah menghabiskan waktunya untuk memperhatikan setiap kesalahanmu. Dari sanalah kekuatan kita ditempa,” ungkapnya.
Ia menekankan bahwa kedewasaan tidak selalu datang seiring waktu, tetapi melalui perubahan sikap dan cara pandang yang lebih baik. Kegagalan dan keterjatuhan, menurutnya, bukanlah akhir, melainkan tanda bahwa seseorang sedang berjalan menuju keberhasilan.
Mengakhiri renungannya, Panglima Besar Tambak Bayah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk mensyukuri perjalanan 365 hari di tahun 2025—dengan segala beban, risiko, dan mimpi yang belum tercapai—sebagai proses pembelajaran hidup.
“Tak apa jika banyak gagal di tahun ini. Masih ada kesempatan. Mari melangkah ke tahun 2026 dengan damai di hati, kuat dalam perjuangan, dan saling berbagi untuk sesama,” tutupnya.
Renungan tersebut ditutup dengan pesan persatuan dan harapan agar tahun 2026 menjadi tahun yang penuh kedamaian, kesejahteraan, serta kekuatan kolektif dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Selamat tinggal 365 hari tahun 2025, dan selamat datang 365 hari tahun 2026. Semoga kita damai di hati dan kuat untuk terus berjuang,” pungkasnya.
Red : Agung'99



Social Footer