Profesi pemanen menjadi salah satu ujung tombak operasional perusahaan dalam menjaga produktivitas kebun kelapa sawit. Sepanjang tahun 2025, empat pemanen terbaik di Regional III berhasil mencatatkan kinerja unggul, yakni Warham Tanjung, Dedek Triono, Adi Syahputra, dan Sudirman Pakpahan.
Bagi para pemanen tersebut, bekerja di PalmCo bukan sekadar mencari nafkah, tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga dan menjamin pendidikan anak-anak mereka di masa depan.
Salah satu pemanen berprestasi, Sudirman Pakpahan, yang kini memasuki usia 50 tahun lebih, mengaku tetap bersemangat bekerja demi keluarga.
“Motivasi utama saya adalah keluarga. Saya ingin membahagiakan istri dan memastikan pendidikan tiga anak saya,” ujar Sudirman dengan penuh semangat.
Pada awal pekan ini, Sudirman bersama tiga rekannya diundang langsung oleh Region Head PTPN IV PalmCo Regional III, Bambang Budi Santoso, ke kantor Regional di Pekanbaru. Dalam pertemuan tersebut, manajemen yang turut didampingi Kepala Bagian SDM dan Sistem Manajemen, Jarwa Rahmanta, juga mengundang keluarga para pemanen untuk hadir.
Suasana penuh kehangatan terasa ketika para pemanen bersama keluarga berbincang dengan jajaran manajemen. Sudirman bahkan mengaku bangga karena untuk pertama kalinya dapat melihat langsung fasilitas PalmCo Business Cockpit di kantor regional.
Menurutnya, undangan tersebut bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi menjadi bukti perhatian manajemen terhadap kerja keras para pekerja di lapangan.
“Terima kasih kepada pimpinan PTPN IV Regional III yang telah mengundang kami. Saya sangat terharu. Ini pertama kalinya saya datang ke sini, diajak berdiskusi dan makan bersama,” ungkapnya.
Didampingi istrinya, Santi, Sudirman mengungkapkan kunci keberhasilannya menjadi pemanen terbaik dengan pendapatan hingga Rp18 juta per bulan adalah fokus dan disiplin dalam bekerja. Dalam sehari, ia mampu memanen sekitar 5 hingga 6 ton tandan buah segar (TBS). Sebelum memulai panen, ia selalu memastikan tingkat kematangan buah dan kedisiplinan dalam mengutip brondolan.
“Kalau ditambah premi, sebulan bisa Rp17 sampai Rp18 juta. Itu semua untuk istri dan anak-anak saya. Pesan saya satu, masa pemanen muda kalah sama yang tua seperti saya,” ujarnya sambil tersenyum.
Pemanen lainnya juga mengungkapkan bahwa keluarga menjadi sumber motivasi utama untuk menjaga performa kerja. Harapan agar anak-anak mendapatkan masa depan yang lebih baik menjadi semangat dalam menjalani pekerjaan yang menuntut fisik dan kedisiplinan tinggi.
Warham Tanjung menilai apresiasi dari perusahaan menjadi dorongan moral bagi pekerja kebun.
“Kami bekerja setiap hari di kebun. Ketika hasil kerja itu dihargai, semangat kami bertambah,” katanya.
Hal serupa disampaikan Dedek Triono yang menilai lingkungan kerja yang memberikan penghargaan akan mendorong pemanen menjaga kualitas panen dan disiplin kerja.
Sementara itu, Bambang Budi Santoso menegaskan bahwa pemanen merupakan fondasi penting dalam operasional perusahaan.
“Pemanen adalah fondasi operasional. Perusahaan ingin memastikan mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus berkembang,” ujarnya.
Manajemen berharap kisah para pemanen berprestasi ini dapat menjadi inspirasi bagi pekerja lainnya sekaligus memperkuat budaya kerja di lingkungan Holding Perkebunan Nusantara yang menempatkan manusia dan keluarga sebagai bagian penting dari keberhasilan perusahaan.(Sabirin)


Social Footer